Hobi Baru, Journaling dengan Kertas
Table of Contents
Background story
Sejak beralih profesi dari belajar sel-sel tubuh manusia menjadi belajar byte-byte digital, saya sudah jarang sekali menulis dan mencatat di kertas. Semua catatan cenderung dalam bentuk digital.
Tapi di jaman serba AI ini saya malah menyenangi menulis journal dengan tulisan tangan di atas kertas.




Apa sebabnya beralih ke paper?
Sebab terbesarnya bisa jadi karena saya mulai menyenangi kembali membaca buku fisik. Sepanjang 2026 ini, saya banyak membaca buku fisik. Mungkin karena terlalu sering memegang kertas, saya jadi ingin menulis di atas kertas.

Karena berinteraksi dengan kertas, selain menulis, saya juga jadi tertarik untuk menggambar. Dari dulu saya ingin sekali bisa menggambar sketsa. Saya mulai dari yang paling sederhana dulu (setidaknya menurut saya sederhana) yaitu “doodle”. Karena saya tidak menyenangi menggunakan element stiker di jurnal saya, saya menggunakan element gambar untuk mengisi bagian-bagian yang kosong di jurnal.


Sebab lain yang mendorong keinginan menulis di kertas lagi adalah karena masa-masa sekarang ini lagi cukup sering mati lampu. Dan jika sudah mati lampu, saya hanya bisa membaca, tapi begitu ingin mencatat hal-hal yang menurut saya menarik, belum tentu laptop saya masih hidup. Kertas menjadi solusi yang paling dekat.
Apa yang saya rasakan setelah menjalani journaling?
- Ternyata saya memiliki perbedaan kecepatan yang signifikan dalam menuangkan ide saat menulis tangan dengan mengetik. Menulis lebih lambat dalam proses mengcapture pikiran, ketimbang mengetik. Tapi hal ini bagus (menurut saya) karena berpikir lebih pelan, otak saya seperti memanfaatkan proses yang lambat itu untuk mengevaluasi statement saya sebelumnya apakah sudah tepat atau belum.
- Saya jadi tidak terlalu ingin menulis di sosial media (terkhusus Threads) tentang isi pikiran saya. Yang terkadang dapat menimbulkan gesekan dengan orang lain yang tidak sependapat. Menuangkan pendapat di journal ternyata lebih tenang. Tidak perlu ada gesekan dengan orang lain yang berbeda pendapat. Karena pendapat yang masih mentah, belum dipikirkan secara dalam, jika dibaca oleh publik tentu akan membuat banyak gesekan. Saya memilih menulis dan mengumpulkan pendapat-pendapat yang masih dangkal tersebut di dalam journal pribadi.
- Saya juga jadi bisa mencatat segala hal, selain ide, saya mencatat perilaku-perilaku orang yang saya lihat pada hari itu. Kenapa saya catat? Karena mungkin suatu hari saya akan tahu alasannya mengapa mereka melakukan itu. Catatan saya bukan catatan judgement terhadap perbuatan tersebut. Hal itu memberikan saya sudut pandang yang lebih luas tentang perilaku orang-orang. Memperkaya wawasan saya dalam berhubungan dengan orang lain. Agar saya dapat menghormati perliaku dan pendapat yang berbeda dari orang lain.
- Saya jadi mempunyai banyak hal untuk saya tulis. Ternyata banyak hal menarik dikehidupan saya sehari-hari yang baru saya sadari setelah saya coba untuk merekamnya dengan tulisan.
- Tulisan saya juga jadi lebih panjang. Tidak kehabisan kata-kata. Mungkin setelah ini, tulisan-tulisan di blog saya akan jadi lebih panjang dan bernarasi. Ahahaha.
Apakah saya meninggalkan catatan digital?
Tentu tidak. Sebenarnya saya tidak benar-benar “beralih” dan meninggalkan catatan digital. Journaling dengan kertas adalah temporary note yang saya jadikan alat untuk capture the something secara cepat. Lapisan pertama dari buah pikiran, gagasan, ide, opini, lain-lain. Saya juga mencatat log aktivitas saya di journal, misalnya log aktivitas membaca sebuah buku. Yang kesemuanya akan saya salin lagi ke catatan yang ada di komputer di akhir hari. Untuk log activity saya pakai toggl. Untuk hal-hal lain saya pakai org-roam. Jadi, saya mengkolaborasikan 2 jenis teknologi (teknologi konvensional dan teknologi modern) secara bersama-sama. Saya tidak memilih mana yang lebih baik dari keduanya. Saya pakai dan memanfaatkan keduanya.
Apakah ada tipe buku khusus untuk journal?
Tidak ada. Karena saya pemula, saya memilih untuk menggunakan tipe kertas yang loose leave agar susunan dan urutannya dapat saya re-order. Karena kalau bentuknya buku, saya belum tahu akan seperti apa menyusun urutannya. Atau berapa buku yang akan saya pergunakan untuk jenis-jenis journalnya. Jadi sebagai permulaan saya memilih menggunakan tipe kertas loose leave. Ukuran kertas yang saya pergunakan adalah A6 untuk binder 6 ring.
Apakah tulisan tangan harus bagus?
Tidak perlu. Journal tidak untuk dibaca semua orang. Tulisan tangan saya juga tidak bagus. Saya ingat komentar dari om saya, ketika ia main ke kamar saya dan melihat tulisan saya saat sedang belajar, saat itu saya masih SD, ia bilang gini, “Bagaimanapun bentuk tulisannya kalau disusun dengan rapi, maka akan terlihat rapi.” Lihatlah tulisan saya tidak bagus sama sekali. Mungkin hanya saya yang bisa baca. Karena beberapa huruf hilang di beberapa kata. Beberapa huruf juga bentuknya tidak sesuai.
Menulis journal untuk anak perempuan?
Tidak setuju. Banyak catatan sejarah ditulis oleh laki-laki. Kalau kamu nonton film “The Last Samurai” (2003), Nathan Algren seorang US Army Captain yang ditawan oleh kelompok samurai, ia menulis journal, dan journalnya dipelajari oleh pemimpin kelompok samurai tersebut yang bernama Katsumoto. Katsumoto mempelajari bagaimana pola pikir dari tawanannnya melalui catatan yang ia tulis di journal. Jadi, dari film ini kita belajar, nasibmu bisa saja berbeda jika kamu punya journal, dan journal tersebut jatuh ke tangan musuhmu.
(^_^)